Iklan

iklan

Strategi Sekda Kota Bekasi Tekan Polusi Udara: Sinergi Lintas Wilayah Jadi Kunci Utama

REDAKSI
Sabtu, Maret 14, 2026 | 03:11 WIB Last Updated 2026-03-13T22:27:06Z
Sekda Kota Bekasi Junaedi dalam Forum Diskusi Aktual Kemendagri Bahas Polusi Udara. (Photo Dok. Humas Pemkot Bekasi) 


Jakarta, MSIR.COM ------Masalah polusi udara di kawasan Jabodetabek memerlukan penanganan kolektif yang tidak bisa diselesaikan oleh satu daerah saja. Menyadari urgensi tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bekasi, Junaedi, menghadiri Forum Diskusi Aktual (FDA) yang diinisiasi oleh Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri di AONE Hotel Jakarta, baru-baru ini.

​Pertemuan strategis ini memfokuskan pembahasan pada penguatan sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian pencemaran udara, berkaca pada krisis kualitas udara yang sempat melanda Jabodetabek pada tahun 2023 lalu.

KOLABORASI LINTAS BATAS: MENGHAPUS SEKAT WILAYAH 

​Kepala BSKDN Kemendagri, Dr. Yusharto Huntoyungo, M.Pd, dalam pembukaannya menegaskan bahwa polusi udara adalah isu lintas wilayah. Emisi tidak mengenal batas administrasi, sehingga koordinasi antar daerah menjadi harga mati.

​"Melalui forum ini, kita mengidentifikasi sumber emisi utama dan mengevaluasi kebijakan yang telah berjalan. Tujuannya satu: melahirkan rekomendasi konkret untuk memperkuat sinergi pusat dan daerah," ujar Yusharto.

TANTANGAN EMISI DI KOTA BEKASI 

​Dalam paparannya, Sekda Kota Bekasi Junaedi membedah anatomi penyebab penurunan kualitas udara di wilayahnya. Berdasarkan data Pemerintah Kota Bekasi, terdapat tiga kontributor utama pencemaran:

  1. Transportasi: Populasi kendaraan bermotor yang menembus angka 1,5 juta unit.
  2. Sektor Industri: Aktivitas dari 36 industri besar (makanan, farmasi, plastik, dan kemasan).
  3. Pengelolaan Limbah: Praktik pembakaran sampah di ruang terbuka yang masih marak.

LANGKAH NYATA DAN INOVASI "Eco-Enzyme"

​Tak sekadar memaparkan masalah, Pemkot Bekasi menunjukkan keseriusannya melalui pemantauan real-time. Saat ini, Bekasi mengandalkan tiga stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) yang ditempatkan di titik vital: GOR Chandrabaga, TPST Bantargebang, dan TPA Sumurbatu.

​Junaedi menekankan bahwa pengendalian udara berkaitan erat dengan manajemen sampah. "Pembakaran sampah terbuka adalah musuh kualitas udara. Penanganan sampah yang sistematis adalah bagian tak terpisahkan dari strategi kita," tegasnya.

​Beberapa langkah taktis yang telah dan terus dijalankan Pemkot Bekasi meliputi:

  • Uji Emisi Berkala: Memastikan kendaraan layak jalan secara lingkungan.
  • Inovasi Eco-Enzyme: Penyiraman jalan protokol untuk menekan debu dan polutan.
  • Rekayasa Lalu Lintas: Pengaturan jalur angkutan barang untuk mengurangi kepadatan.
  • Sabuk Hijau: Penanaman pohon secara masif di area industri dan sekolah.

HARAPAN PASCA FORUM 

​Kehadiran jajaran tinggi seperti Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menunjukkan komitmen OPD terkait dalam mengeksekusi hasil diskusi ini. 

Forum ini diharapkan menjadi batu pijakan bagi lahirnya regulasi yang lebih terintegrasi untuk menciptakan langit Bekasi yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat. [■] 








Tim Redaksi, Editorial:  Iwan Iskandar

**Untuk Pengiriman👉: PRESS RELEASE, UNDANGAN PELIPUTAN, KERJASAMA PUBLIKASI dan IKLAN . hubungi: WHATSAPP0812-8175-4849.

*Channel WhatsApphttps://whatsapp.com/channel/0029Vatmniz6hENvr9h8AF16









Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Strategi Sekda Kota Bekasi Tekan Polusi Udara: Sinergi Lintas Wilayah Jadi Kunci Utama

Trending Now

Iklan