![]() |
| Photo Dok. Divisi Humas Polri |
Jakarta, MSIR.COM ------Dunia digital Indonesia kembali dikejutkan dengan pengungkapan kasus cybercrime skala besar. Bareskrim Polri baru saja membongkar praktik penjualan phishing tools (alat pencuri data) yang beroperasi lintas negara. Tak main-main, sindikat ini berhasil mengantongi keuntungan hingga Rp25 miliar dari hasil menjaring korban di berbagai belahan dunia.
Penangkapan dua tersangka utama berinisial GWL dan FYTP dilakukan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (9/4/2026). Kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ancaman siber kini semakin canggih dan bisa dikendalikan dari mana saja.
AWAL MULA TERUNGKAP: BERAWAL DARI PATROLI SIBER
Keberhasilan ini bermula dari kejelian tim patroli siber yang menemukan aktivitas mencurigakan di sebuah situs penjual script phishing. Setelah dilakukan penelusuran mendalam, jejak digital mengarah pada platform bernama w3llstore.com.
Untuk menghindari endusan aparat, para pelaku ternyata juga menggunakan bot Telegram sebagai sarana distribusi alat kejahatan mereka. Kadivhumas Polri, Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, menjelaskan bahwa alat yang dijual terbukti sangat berbahaya bagi keamanan data pribadi.
"Tools yang mereka buat mampu mencuri kredensial hingga mengambil alih akun korban secara total," ungkap Irjen Pol. Johnny.
Ingin publikasi berita atau pasang iklan di sini?
HUBUNGI:0812-8175-4849 "REDAKSI" Sekarang!MODUS CANGGIH: BISA TEMBUS TANPA OTP!
Salah satu hal yang paling meresahkan dari tools buatan GWL dan FYTP ini adalah kemampuannya menyedot session login. Artinya, jika seseorang terjebak masuk ke situs palsu mereka, pelaku bisa langsung mengakses akun korban tanpa perlu lagi meminta kode OTP (One-Time Password).
Dalam pembagian tugasnya:
- GWL: Bertindak sebagai "otak" teknis yang membuat dan mengelola infrastruktur tools serta jalur distribusi.
- FYTP: Bertindak sebagai pengelola keuangan, mencuci uang hasil kejahatan melalui aset kripto dan berbagai rekening bank.
KOLABORASI DENGAN FBI: JARINGAN TRANS NASIONAL
Karena korbannya banyak yang berasal dari Amerika Serikat, Polri bekerja sama langsung dengan Federal Bureau of Investigation (FBI). Langkah ini diambil untuk mengidentifikasi para korban sekaligus melacak siapa saja pembeli alat ilegal tersebut di pasar gelap internasional.
Sejauh ini, polisi telah menyita aset senilai Rp4,5 miliar yang mencakup rumah mewah, kendaraan, hingga perangkat elektronik canggih. Sejak beroperasi dari tahun 2021 hingga 2026, total perputaran uang sindikat ini diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni Rp25 miliar.
PESAN PENTING UNTUK PENGGUNA INTERNET
Pengungkapan ini membuktikan bahwa Indonesia berkomitmen penuh dalam menjaga keamanan ekosistem digital global. Bagi masyarakat, kasus ini menjadi alarm agar lebih waspada saat menerima tautan (link) mencurigakan.
Tips Singkat Menghindari Phishing:
- Selalu cek URL website sebelum memasukkan username dan password.
- Jangan mudah tergiur dengan link promo atau pesan yang bersifat mendesak di WhatsApp/Email.
- Gunakan pengamanan tambahan seperti kunci keamanan fisik jika memungkinkan.
Penyidik Polri saat ini masih terus mengembangkan kasus ini untuk mengejar para pembeli tools tersebut. Jangan sampai kita menjadi korban berikutnya karena kelalaian kecil dalam mengklik tautan. [■]
Dapatkan akses berita terpercaya dan cepat langsung dari genggaman Anda.
KUNJUNGI PORTAL BERITATim Redaksi, Editorial: Iwan Iskandar
**Untuk Pengiriman👉: PRESS RELEASE, UNDANGAN PELIPUTAN, KERJASAMA PUBLIKASI dan IKLAN . hubungi: WHATSAPP: 0812-8175-4849.
*Follow the👉: mediaseputarindonesiaraya.com
*Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vatmniz6hENvr9h8AF16






