Kota Bekasi, MSIR.COM ------Kementerian Agama RI telah resmi menetapkan awal Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada tahun 2026 melalui Sidang Isbat yang digelar Kamis, 19/3/2026 petang jelang malam tadi. Keputusan ini diambil berdasarkan metode istikmal atau menyempurnakan bilangan bulan Ramadan menjadi 30 hari, mengingat hilal secara teknis dan lapangan tidak terlihat.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis, memberikan sambutan mendalam terkait persatuan umat di tengah perbedaan pandangan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
MENGAPA PEMERINTAH MEMUTUSKAN ISTIKMAL?
Menurut KH. Cholil Nafis, keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan fikih dan data sains yang akurat. Beliau mengutip kaidah "Da' ma yuribuka ila ma la yuribuka" = tinggalkan yang ragu dan ambil yang yakin.
"Yang yakin adalah memastikan hitungan hisab itu tidak bisa dilihat, dan di lapangan benar-benar tidak terlihat. Maka kita sempurnakan puasa kita menjadi 30 hari," ujar beliau di hadapan jajaran Kementerian Agama, Komisi VIII DPR RI dan beserta awak media.
KEPUTUSAN PEMERINTAH ADALAH PENGIKAT PERBEDAAN
Menanggapi potensi perbedaan hari lebaran, KH. Cholil Nafis menegaskan posisi pemerintah sebagai Ulil Amri. Beliau merujuk pada Keputusan MUI tahun 2004 dan Keputusan Muktamar NU ke-20 yang menyatakan bahwa pengumuman awal Ramadan dan lebaran adalah hak pemerintah.
Beliau menekankan kaidah ushul fikih: Hukmul hakim ilzamun wa yarfa’ul khilaf (Keputusan hakim/pemerintah bersifat mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat).
"Keputusan Kementerian Agama mewakili pemerintah adalah hukum yang tetap untuk menyatukan kita. Namun, saat yang sama, kita tetap mentoleransi saudara-saudara kita yang memiliki keyakinan lebaran lebih awal," tambahnya.
PESAN RAMADHAN: EFISIENSI DAN SEMANGAT BERBAGI
Selain aspek hukum, KH. Cholil Nafis mengajak umat Muslim untuk membawa "semangat Ramadan" ke 11 bulan berikutnya. Ada dua poin utama yang beliau garis bawahi:
- Hidup Efisien: Melatih diri untuk tidak berlebihan dalam mengonsumsi hal yang halal, apalagi yang haram.
- Konsistensi Berbagi: Menjadikan zakat fitrah dan sedekah sebagai bukti iman (Ash-shadaqatu burhanun).
"Indikator Ramadan kita diterima Allah adalah ketika kebaikan ibadah di bulan suci berlanjut pada bulan-bulan berikutnya," tutup beliau sembari mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri 1447 H kepada seluruh masyarakat Indonesia. [■]
Tim Redaksi, Editorial: Iwan Iskandar
**Untuk Pengiriman👉: PRESS RELEASE, UNDANGAN PELIPUTAN, KERJASAMA PUBLIKASI dan IKLAN . hubungi: WHATSAPP: 0812-8175-4849.
*Follow the👉: mediaseputarindonesiaraya.com
*Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vatmniz6hENvr9h8AF16





