MSIR.COM, Kota Bekasi —Stadion Patriot Candrabhaga kota Bekasi menjadi saksi bisu runtuhnya martabat salah satu raksasa sepak bola Indonesia. Kekalahan telak 0-7 Sriwijaya FC dari FC Bekasi City pada Jumat sore 16/1/2026 bukan sekadar angka di papan skor, melainkan sinyal darurat bagi Laskar Wong Kito klub kebanggaan Sumatera Selatan tersebut.
RUNTUHNYA PERTAHANAN ELANG ANDALAS
Sejak peluit pertama dibunyikan, Sriwijaya FC tampak kehilangan kompas. Babak pertama ditutup dengan keunggulan 3-0 untuk tuan rumah, namun petaka sesungguhnya justru terjadi pasca-turun minum. Empat gol tambahan bersarang tanpa ada resistensi berarti dari lini belakang Laskar Wong Kito.
Secara teknis, terdapat kegagalan transisi yang sangat mencolok. Jarak antar-lini yang melebar memberikan ruang terbuka bagi pemain Bekasi City untuk mengeksploitasi sisi sayap dan melepaskan umpan-umpan kunci ke jantung pertahanan.
TIGA MASALAH AKUT: LEBIH DARI SEKADAR STRATEGI
Hasil memilukan ini membedah borok yang selama ini tertutupi. Analisis pertandingan menunjukkan ada tiga faktor utama yang menyebabkan performa “mati suri” Sriwijaya FC:

- Krisis Identitas Taktik: Tim asuhan pelatih Sriwijaya FC saat ini tampak gamang. Mereka tidak memiliki pola bertahan yang solid, namun juga tumpul saat mencoba menginisiasi serangan balik.
- Lini Tengah yang Lumpuh: Tidak adanya jembatan antara lini belakang dan depan membuat aliran bola sering terputus di tengah jalan. Hal ini menyebabkan barisan depan terisolasi total.
- Mentalitas yang Rapuh: Pasca gol ketiga, koordinasi antar pemain praktis menghilang. Absennya sosok pemimpin di lapangan membuat kepanikan menjalar cepat ke seluruh skuad.
KLASEMEN LIGA 2: MENGHITUNG MUNDUR MENUJU DEGRADASI?
Dengan koleksi hanya dua poin di fase Championship Liga 2 Indonesia 2025-2026, posisi Sriwijaya FC kini berada di titik nadir. Defisit gol yang membengkak akibat kekalahan 0-7 ini memperkecil peluang mereka untuk bertahan jika poin berakhir imbang dengan kompetitor lain.
Secara matematis, peluang memang masih ada. Namun, melihat grafik permainan yang terus menurun, skenario degradasi bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan ancaman nyata yang tinggal menunggu waktu jika tidak ada perombakan radikal.
NAMA BESAR TAK LAGI CUKUP
Sejarah panjang dan deretan trofi di masa lalu terbukti tidak bisa menyelamatkan tim di lapangan hijau. Sepak bola modern menuntut struktur organisasi yang sehat dan ketahanan mental yang baja.

Kekalahan 7-0 ini harus menjadi titik balik bagi manajemen untuk melakukan evaluasi total, mulai dari perencanaan tim hingga respons manajerial terhadap tren negatif yang sudah berlangsung sejak awal musim. [■]
Tim Redaksi, Editorial: Iwan Iskandar
**Untuk Pengiriman: 👉PRESS RELEASE, UNDANGAN PELIPUTAN, KERJASAMA PUBLIKASI dan IKLAN . hubungi: WHATSAPP: 0812-8175-4849.
*Follow the 👉: mediaseputarindonesiaraya.com
*Channel on WhatsApp 👉: https://whatsapp.com/channel/0029Vatmniz6hENvr9h8AF16
![]()










Leave a Reply