MSIR.COM, Jakarta—Dialog mahasiswa STIK-PTIK episode ketiga menjadi panggung bagi pandangan segar mengenai masa depan Polri. Fokus utama diskusi kali ini adalah transformasi institusi kepolisian dalam menghadapi derasnya arus perkembangan teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI). Mahasiswa, sebagai representasi generasi pemimpin masa depan, tampil sebagai pembicara utama, didukung oleh masukan dari sejumlah tokoh kunci.
TIGA PILAR TRANSFORMASI: KETERBUKAAN DAN TEKNOLOGI
Irjen Pol Drs. Bahagia Dachi, S.H., M.H., Dosen Kepolisian Utama Tk.I STIK Lemdiklat Polri, menyoroti pentingnya keterbukaan institusi terhadap masukan publik. Ia menegaskan adanya timbal balik kritis antara Polri dan masyarakat, di mana kritik harus dapat diterima dan diberikan secara proporsional.
Lebih lanjut, Irjen Dachi memaparkan bahwa transformasi Polri berdiri di atas tiga komponen utama: people, technology, dan process. Ia memberikan contoh praktis melalui sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Menurutnya, implementasi ETLE harus ditingkatkan menggunakan AI dan teknologi canggih agar lebih user-friendly, misalnya dengan memfasilitasi pembayaran denda via QR code atau pengiriman notifikasi pelanggaran melalui WhatsApp.
”Penggunaan AI dalam penegakan hukum di masa depan tidak bisa dielakkan,” tegas Irjen Dachi, menggarisbawahi urgensi adopsi teknologi.
MENGGESER FOKUS KE PENCEGAHAN BERBASIS DATA
Founder Drone Emprit dan PT Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, memberikan apresiasi atas kesadaran kritis mahasiswa Polri yang melihat perlunya pergeseran paradigma dalam kepolisian modern.
Menurut Ismail Fahmi, Polri selama ini terlalu berorientasi pada penegakan hukum (enforcement), padahal potensi AI dapat dimaksimalkan untuk prediksi dan pencegahan (prediction and prevention). Ia mengusulkan pemanfaatan AI, baik melalui data ETLE maupun CCTV, untuk memetakan lokasi rawan kejahatan dan memberikan feedback langsung kepada masyarakat. Pendekatan pencegahan berbasis data ini diyakini akan sangat membantu tugas kepolisian.
LITERASI TEKNOLOGI SEBAGAI MODAL KEPEMIMPINAN
Senada dengan fokus teknologi, Perwakilan GP Ansor, Ahmad Luthfi, menekankan pentingnya literasi teknologi bagi calon pemimpin Polri.
”Jika ingin menjadi pemimpin masa depan, maka harus menguasai teknologi,” ujarnya, mengingatkan bahwa setiap persoalan di era kontemporer selalu beririsan dengan teknologi.
Secara keseluruhan, dialog ini menegaskan bahwa masa depan Polri tidak hanya bergantung pada kesiapan institusi, tetapi juga pada generasi muda yang melek teknologi dan kemauan seluruh ekosistem pendukung—termasuk masyarakat dan kolaborasi lintas sektor—untuk merangkul perubahan digital. [■]
Tim Redaksi, Editorial: Iwan Iskandar
**Untuk Pengiriman: 👉PRESS RELEASE, UNDANGAN PELIPUTAN, KERJASAMA PUBLIKASI dan IKLAN . hubungi: WHATSAPP: 0812-8175-4849.
*Follow the 👉: mediaseputarindonesiaraya.com
*Channel on WhatsApp 👉: https://whatsapp.com/channel/0029Vatmniz6hENvr9h8AF16










Leave a Reply