Pasar Mobil Indonesia ‘Mati Suri’: Gaikindo Pertahankan Target Kritis di Tengah ‘Rojali’ Pameran

Realisasi Penjualan Jauh dari Proyeksi, Tekanan Ekonomi dan Politik Jadi Momok Serius Industri. Insentif Kendaraan Listrik Belum Mampu Jadi Penyelamat

MSIR.COM, Kota BekasiIndustri otomotif nasional menghadapi tantangan berat. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dihadapkan pada realita pahit: penjualan mobil baru hingga periode Januari-Oktober 2025 baru menyentuh angka 635.844 unit. Angka ini ‘jauh panggang dari api’ jika dibandingkan target awal tahun sebesar 900.000 unit. Meskipun sempat mempertimbangkan revisi drastis, Gaikindo memilih bertahan dengan target minimal 850.000 unit hingga akhir tahun, sebuah proyeksi yang makin sulit dicapai di tengah perlambatan daya beli dan ketidakpastian ekonomi.

 

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

 

 

BEBAN MAKRO EKONOMI DAN GEJOLAK HARGA 

Melambatnya pertumbuhan kredit, gejolak politik, serta depresiasi kurs dolar AS menjadi beban utama yang menekan daya beli masyarakat kelas menengah—segmen pembeli mobil terbesar. Pengamat otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menyoroti kenaikan PPN menjadi 12%, kenaikan harga komponen impor, dan ketidakjelasan opsen pajak daerah (PKB dan BBNKB) sebagai faktor kompleks yang menghambat pemulihan pasar di paruh kedua 2025. Penjualan wholesales (pabrik ke dealer) pada Juni 2025 bahkan merosot tajam 22,6% YoY menjadi 57.760 unit.

 

 

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

 

 

PAMERAN OTOMOTIF: AJANG PAMER, BUKAN JUALAN?

Ajang pameran besar seperti GIIAS, IIMS, dan GJAW diharapkan menjadi katalis penjualan. Namun, realitasnya berbeda. Meskipun GIIAS 2025 (24 Juli – 3 Agustus) mencatatkan peningkatan volume penjualan 12% dengan 38.929 unit, nilai transaksinya justru anjlok -37% menjadi Rp11,8 triliun. Penurunan ini disebabkan kompetisi harga yang ketat, terutama dengan hadirnya pemain China seperti BYD dan Wuling yang agresif memangkas harga. Fenomena ini diperkuat oleh komentar Head of Marketing BYD Indonesia, Luther T. Panjaitan, yang menyebut istilah “Rojali (Rombongan Jarang Beli) atau Rohana (Rombongan Hanya Nanya)” karena pengunjung naik, tapi transaksi melemah.

 

 

INSENTIF LISTRIK YANG BELUM BERTAJI 

Pemerintah telah memperpanjang insentif fiskal berupa PPN DTP (10% untuk BEV TKDN \ge 40%) dan PPnBM DTP (3% untuk kendaraan hybrid) hingga akhir 2025. Sayangnya, upaya ini belum memberikan dampak signifikan untuk mendongkrak penjualan. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah fundamental pasar lebih berakar pada daya beli dan ketidakpastian kebijakan makro daripada insentif semata.

 

 

 

 

SOLUSI DAN PROYEKSI AKHIR TAHUN 

Yannes Martinus Pasaribu menekankan bahwa solusi “di atas kertas gampang, tapi implementasinya tidak mudah.” Pemerintah perlu menstabilkan kebijakan fiskal dan pajak, memperjelas opsen PKB/BBNKB, memperpanjang relaksasi PPnBM, dan menyediakan skema kredit berbunga rendah. Tanpa intervensi kebijakan yang tegas, target 850.000 unit Gaikindo di akhir tahun 2025 akan menjadi tantangan yang sangat berat untuk dicapai, menjaga industri otomotif tetap berada dalam fase ‘menahan napas’. [■]

 

 

 

 

 

Tim Redaksi, Editorial:  Iwan Iskandar

**Untuk Pengiriman: 👉PRESS RELEASE, UNDANGAN PELIPUTAN, KERJASAMA PUBLIKASI dan IKLAN . hubungi: WHATSAPP0812-8175-4849.
*Follow the 👉: mediaseputarindonesiaraya.com
*Channel on WhatsApp 👉: https://whatsapp.com/channel/0029Vatmniz6hENvr9h8AF16

error: Content is protected !!