Evaluasi Menyeluruh Timnas Indonesia: Blunder, Kontroversi Wasit, dan Tantangan Non-Teknis Menuju Piala Dunia 2026

MSIR.COM, Kota Bekasi —Perjalanan Tim Nasional Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia harus terhenti di Babak Keempat. Meski Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyebut pencapaian ini sebagai sejarah baru bagi sepak bola nasional, evaluasi mendalam tak terhindarkan. Sorotan tidak hanya tertuju pada performa di lapangan, tetapi juga isu-isu non-teknis, mulai dari kebijakan federasi hingga kontroversi wasit yang dinilai merugikan Skuad Garuda.

 

SOROTAN NON – TEKNIS : PSSI HARUS PERKUAT REPRESENTASI DI LEVEL INTERNASIONAL 

​Salah satu kritik keras yang muncul adalah dugaan “kecurangan” dalam penentuan jadwal dan lokasi pertandingan. Keputusan Arab Saudi menjadi tuan rumah fase krusial di Babak Keempat, alih-alih di tempat netral, dianggap sebagai preseden buruk.

​Analisis: PSSI didesak untuk segera mengambil langkah strategis dengan mengirimkan kader-kader terbaik untuk menjadi perwakilan di federasi sepak bola regional dan internasional seperti FIFA, AFC, dan AFF. Keterwakilan yang kuat di sana diyakini menjadi kunci untuk mengawal kepentingan Indonesia, terutama terkait jadwal, lokasi, dan regulasi pertandingan agar tidak lagi “diakali” oleh negara lain, khususnya dari Timur Tengah.

 

KONTROVERSI WASIT: SOROTAN TAJAM UNTUK MA NING DAN WASIT VAR

​Pertandingan krusial Timnas Indonesia kembali diwarnai kontroversi wasit. Pengadil lapangan utama, Ma Ning (Tiongkok), yang memiliki rekam jejak kontroversial (termasuk kasus tiga penalti untuk Qatar di Final Piala Asia), kembali menuai kritik.

​Yang tak kalah disorot adalah wasit VAR, Udon (Thailand). Dugaan ‘ketiduran’ atau kelalaian dalam melakukan review VAR sama sekali muncul mengingat tidak adanya intervensi signifikan pada momen-momen krusial.

​”Ini bukan kali pertama wasit dari Thailand bermasalah saat Indonesia bermain. Dugaan ini muncul seiring fakta bahwa Tiongkok baru saja disingkirkan oleh Indonesia, dan Thailand tidak ingin posisi mereka sebagai ‘raja ASEAN’ disalip Indonesia,” ujar salah seorang pengamat sepak bola di media sosial.

 

BLUNDER FATAL DI LAPANGAN: PELAJARAN BERHARGA BAGI RIZKY RIDHO 

Meskipun secara umum komposisi pemain yang diturunkan sudah cukup ideal, kesalahan individu menjadi penentu. Salah satu insiden paling disayangkan adalah blunder fatal yang dilakukan oleh Kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho.

​Ridho, yang sebenarnya tampil solid, melakukan satu kesalahan mendasar saat mencoba memutar bola, yang berujung direbut lawan dan menghasilkan gol keunggulan bagi Irak.

​”Umpan ke kiper (Paes) lebih aman, atau lebih baik lagi bola dibuang. Mengapa mencoba memutar bola di area berbahaya? Ini adalah pelajaran penting tentang mental dan pengambilan keputusan pemain Liga kita yang harus ditingkatkan,” tulis kritikus di MedSos.

 

MASA DEPAN TIMNAS: SOLIDARITAS DAN EVALUASI STAF PELATIH 

Photo by instagram @timnasindonesia
Photo by instagram @timnasindonesia

 

​Meskipun kekalahan terasa pahit, dukungan untuk Timnas tetap mengalir. Erick Thohir menyampaikan apresiasinya dan memohon maaf karena mimpi Piala Dunia 2026 belum terwujud, seraya mengapresiasi perjuangan bersejarah tim.

​Pemain dihimbau untuk tidak dihujat, melainkan diberikan dukungan penuh. Fokus kini beralih ke evaluasi staf kepelatihan. Pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah Patrick cs (asisten pelatih) atau jajaran PSSI lainnya perlu diganti?

​”Semua sudah berakhir. Sekarang saatnya membangun mimpi untuk empat tahun ke depan. Gas terus Timnas! Sukses di lain waktu!”  [■]

 

 

 

 

Tim Redaksi, Editorial:  Iwan Iskandar

**Untuk Pengiriman: 👉PRESS RELEASE, UNDANGAN PELIPUTAN, KERJASAMA PUBLIKASI dan IKLAN . hubungi: WHATSAPP0812-8175-4849.
*Follow the 👉: mediaseputarindonesiaraya.com
*Channel on WhatsApp 👉: https://whatsapp.com/channel/0029Vatmniz6hENvr9h8AF16

error: Content is protected !!